CONTOH PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO
DI DUNIA INDUSTRI
Manajemen risiko
merupakan aplikasi dari manajemen umum yang secara khusus membahas strategi
untuk mengatasi aktivitas-aktivitas yang menimbulkan risiko yang terjadi. Strategi yang berhubungan
dengan cara untuk menghindari risiko yang akan terjadi pada semua industri yang ada di Indonesia.
Cara untuk menangani risiko-risiko menurut
Mark S. Dorfman (2000), menggunakan profiling
atau risk mapping yaitu metode loss
control dan risk
financing .
Ø Loss control, adalah suatu kegiatan untuk mengurangi kerugian
biaya yang diharapkan dan mengurangi tingkat keseringan dan dampak kerugian
yang terjadi. Loss contol sendiri
dibagi menjadi tiga yaitu:
Ø Risk avoidance, adalah suatu penerapan
metode yang dilakukan dengan cara menghindari memproduksi produk yang
berbahaya.
Ø Loss prevention, adalah suatu penerapan
metode yang digunakan untuk mencegah terjadinya kerugian atau kehilangan.
Ø Loss reduction, adalah suatu penerapan
metode yang dilakukan dengan cara memperkecil dampak-dampak kerugian yang
terjadi.
Ø Risk financing, adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan
kapan dan kepada siapa biaya kerugian ditanggungkan. Risk financing sendiri dibagi menjadi empat yaitu:
Ø Risk assumption, adalah suatu penerapan
metode yang dilakukan dengan cara menerima akibat dari segala risiko yang
terjadi.
Ø Retention, adalah suatu metode yang
dilakukan dengan menahan obligasi untuk mengganti sebagian atau keseluruhan
kerugian.
Ø Risk transfer, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan
memperbolehkan perusahaan untuk mentransfer risiko ke perusahaan lain, selain
perusahaan asuransi.
Ø Insurance, adalah suatu penerapan metode yang dilakukan dengan
mengasuransikan segala sesuatu yang mempunyai potensi besar untuk terjadi
risiko, kepada perusahaan asuransi.
Banyak sekali
manfaat dari diterapkannya manajemen resiko di Industri ini yaitu :
1. Ketahanan terhadap krisis,
stabilitas dan kelangsungan industri.
2. Mengurangi surprise dan
fluktuasi keuangan dan operasional.
3. Menambahkan nilai industri melalui peningkatan putusan strategi.
4. Mendorong peningkatan inovasi
dan kreativitas.
5. Meningkatkan efisiensi dan
efektifitas pemanfaatan sumber daya industri
tersebut.
6. Memesukan aspek kepatuhan dan
inforcement.
7. Membuka peluang industri karna fleksibilitas proses strategi management.
8. Memenuhi akutanbilitas
keuangan dan memperkuat kinerja.
9. Meningkatkan Reputasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar