BAB
I
PENGERTIAN
REMAJA
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti
yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan
fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat
yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan
dewasa atau tua.
Seperti yang
dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau
peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki
status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa
dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa
dewasa.
Masa
remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun
bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan pengertian remaja menurut Zakiah Darajat
(1990: 23) adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.
Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya
maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan
ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah
matang.
Hal senada
diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa perkembangan
transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan
usia remaja yang umum
digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia
remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja
awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja
akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi
empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15
tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21
tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi
remaja yang dipaparkan
oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut
menggambarkan bahwa masa remaja adalah
masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia
antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik
itu pematangan fisik, maupun psikologis.
BAB II
PERKEMBANGAN PERAN SOSIAL REMAJA
Perkembangan sosial
pada masa remaja merupakan puncak dari perkembangan sosial dari fase-fase
perkembangan. Bahkan terkadang perkembangan sosial remajalebih mementingkan
kehidupan sosialnya di luar daripada ikatan sosialnya dalam keluarga.
Perkembangan sosial remaja pada fase ini merupakan titik balik pusat perhatian.
Lingkungan sosialnya sebagai perhatian utama.
Pada usia remaja
pergaulan dan interaksi sosial dengan tema sebaya bertambah luasdan kompleks
dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis.
Pemuasan interlektual juga didaptkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan
berdiskusi, berdebat untuk memecahkan masalah. Mengikuti organisasi sosial juga
meberikan keuntungan bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agar
remaja dapat bergaul dengan baikdalam kelompoknya diperlukan kompentensi sosial
yang berupa kemampuan dan keterampilan berhubungan dengan rang lain.
Suatu penelitian
logitudinal yang dilakukan oleh Bronson,
menyimpulkan ada tiga pola orientasi sosial remaja, yaitu:
a.
Withdrawal vs Expansive
F Anak yang tergolong adalah anak yang mempunyai
kecenderungan menarik diri dalam kehidupan sosial, sehingga dia lebih senang
hidup meyendiri. Sebaliknya anak Expansive adalah anak yang mudah bergaul
dengan orang lain sehingga pergaulannya luas.
b.
Reaxtive vs Aplacidity
F Anak yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi
sehingga mereka banyak kegiatan, sedangkan anak yang mempunyai sifat acuh tak
acuh bahkan tak perduli terhadap kegiatan sosial. Akibatnya mereka terisolir
dalam pergaulan sosial.
c.
Passivity vs Dominant
F Anak yang berorientasi sebenarnya banyak mengikuti
kegiatan sosial namun mereka cukup puas sebagai anggota kelompok saja,
sebaliknya anak yang mepunyai kecenderungan menguasai dan mempengaruhi
teman-temannya sehingga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi pemimpin.
Tujuan perkembangan sosial remaja adalah :
Ø
Memperluas kontak sosial.
Remaja tidak lagi memilih teman-teman berdasarkan kemudahannya, mulai dari di
sekolah, di lingkungan, remaja mulai menginginkan teman yang memiliki
nilai-nilai yang sama, yang dapat memahami, membuat rasa aman, mereka dapat
mepercayakan masalah-masalah dan dapat membahas hal-hal yang tidak dapat
dibicarakan dengan orang tua.
Ø
Mengembangkan identitas
diri. Remaja dalam kehidupannya mulai ingin menjawab pertanyaan tentang
dirinya, siapakah saya?
Ø
Menyesuaikan dengan
kematangan seksual .
Ø
Belajar menjadi orang
dewasa.
SIKAP SOSIAL REMAJA
Perkembangan sikap
sosial remaja ada yang disebut sikap komformitas dan sikap heteroseksual. Sikap
komformitas merupakan sikap ke arah penyamanan kelompokyang menekakan remaja
dapat bersifat positif dan negatif. Sikap koformitas yang negatif seperti
pengrusakan, mencuri, narkoba, dll. Sedangkan komformitas positif misalnya
menghabiskan sebagian waktu dengan anggota lain yang melibatkan kegiatan sosial
yang baik (Santrock, 1997).
Perubahan sikap dan
perilaku seksual remaja yang paling menonjol adalah bidang heteroseksual
(Hurlock, 1991). Mereka mengalami perkembangan dari tidak menyukai lawan jenis,
menjadi menyukai lawan jenis. Kesempatan dalam berbagai kegiatan sosial semakin
luas, yang menjadikan remaja memiliki wawasan yang lebih luas. Remaja semakin
mampu dalam kemampuan sosial yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.
Terkait dengan
hubungan heteroseksual ada beberapa tujuan yang dicapai yaitu :
·
Remaja dapat belajar
berinteraksi dengan lawan jenis, dimana akan mempermudah perkembangan sosial
mereka terutama kehidupan keluarga.
·
Remaja akan dapat melatih
diri untuk jadi mandiri, yaitu diperoleh dengan berbagai kegiatan sosial.
·
Remaja akan mendapatkan
status tersendiri dalam kelompok.
·
Remaja dapat belajar
melakukan memilih teman.
Orang tua dan
pendidik harus membimbing remaja agar dapat mencapai hubungan baru dan yang
lebih matang dengan teman sebayabik pria maupun wanita, menerima keadaan
fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, menharapkan dan mencapai
perilaku sosial yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi,
mempersiapkan perkawinan dan keluarga, memperoleh perangkat nilai, serta sistem
etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
BAB III
KEHIDUPAN
REMAJA DALAM KELOMPOK SOSIALNYA
Remaja sering kali dianggap sebagai kelompok yang
“aneh”, karena dalam kehidupanya kelompok ini sering menganut
kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berbeda atau bertentangan dengan
kaidah-kaidah dan nilai yang dianut orang dewasa terutama orang
tuanya. Ditinjau dari segi usia tidak mudah menentukan secara pasti,
siapa yang dianggap sebagai kelompok remaja ini, namun pada umumnya, masyarakat
berpendapat bahwa kelompok remaja terbagi menjadi menjadi dua yaitu remaja
awal dan remaja akhir.Golongan remaja awal (early adolescence) adalah
kelompok anak yang berusia 13-17 tahun, sedang remaja akhir adalah mereka yang
berusia 17-18 tahun ke atas sampai menginjak masa dewasa awal.
Dilihat dari
dimensi usia dan perkembangannya, Nampak bahwa kelompok ini tergolong kelompok
“transisional” (masa peralihan) dalam pengertian remaja merupakan dekade yang
bersifat sementara yaitu rentang waktu antara usia
anak-anak dengan usia dewasa, sehingga bisa dipahami bahwa pada setiap periode
transisi selalu ada gejolak dan badai yang menyertai perubahan. Dan masa
transisi ini pulalah yang mengakibatkan remaja setelah mengalami gejolak dalam
mencari identitasnya, meskipun gejolak pada setiap remaja memiliki kuantitas
dan kualitas yang berbeda. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepribadian transisi
dengan berbagai ciri utama sebagai berikut :
1. Perkembangan
phisik yang pesat sehingga perbedaan ciri fisik antara laki-laki dan wanita
semakin tegas.
2. Keinginan
yang kuat mengadakan interaksi sosial dengan kalangan yang lebih dewasa untuk
memperoleh pengakuan bahwa mereka sudah termasuk kelompok dewasa.
3. Memiliki
keinginan kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan orang dewasa
walaupun secara relative, tanggung jawab yang ada pada mereka masih
belum mantap.
4. Mulai
memikirkan kehidupan secara mandiri baik secara social, ekonomis maupun politis
dan phisikis, dengan mengutamakan kebebasan emosional dari pihak orang dewasa.
5. Adanya
perkembangan intelektualitas yang akan digunakan untuk mendapatkan identitas
diri,
6. Menginginkan
sistem, kaidah dan nilai yang serasi dengan kebutuhan yang diinginkannya, yang
sering kali tidak seiring dengan kaidah yang dianut oleh orang dewasa.
Hasil
penelitian menunjukan bahwa bimbingan yang bersifat persuasif dari orang tua,
lebih di perlukan dan lebih efektif disbanding penekanan yang sering kali
menjadi penyebab konflik berkepanjanagn antara kelompok remaja dengan orang
tua.
1. Problem
Dalam Kehidupan Sosial Remaja.
Secara umum kehidupan sosial yang sangat berarti pada
kehidupan kelompok remaja adalah hubungan dengan kelompoknya, hal ini tidak berarti bahwa
lingkungan sosial yang lain dapat diabaikan begitu saja, karena kelompok remaja
juga selalu berada dalam konteks masyarakat yang luas dan kompleks, sehingga
pembahasaan akan difokuskan pada hubungan remaja dengan lingkungan sosialnya,
hubungan dengan orang tua, guru serta hubungan dengan rekan sesama remaja.
a. Remaja dan Lingkungan Sosialnya
Perkembangan
kepribadian seseorang termasuk remaja merupakan hasil hubungan dan pengaruh
timbal balik secara terus-menerus antara pribadi dan lingkunganya, lingkungan
sosial bagi kelompok remaja merupakan sumber inspirasi yang dapat memberikan
kekuatan dan kekuatan phisik maupun kesehatan mental yang dapat merupakan upaya
mencegah timbulnya gangguan perkembangan kepribadian. Sebaliknya lingkungan sosial
yang tidak sehat, dapat pula menimbulkan ganguan pada kepribadian sesorang yang
menyebabkan ganguan dalam kesejahteraan mentalnya. Pendidikan diharapkan dapat
mengatasi kesulitan remaja sehingga perkembangan kepribadiannya dapat
berlangsung dengan baik.
b. Hubungan
Remaja dengan Orang Tua
Dalam
kehidupan keluarga seringkali muncul konflik antara orang tua dengan anak-anak
yang telah menginjak remaja. Masalah-masalah yang dihadapi remaja dengan orang
tuanya seringkali disebabkan oleh hambatan komunikasi yang terjadi antara kedua
belah pihak.
Faktor-faktor
yang ditengarai dapat menjadi penghambat kumunikasi tersebut diantarnya adalah:
- Orang tua biasanya merasa
mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan anak yang menginjak
remaja, sebagai akibat terjadi benturan nilai antara remaja yang mulai merasa
dewasa dengan orang tua yang mengggunakan otoritas yang berlebihan.
- Orang tua dan remaja tidak
mempergunakan bahasa yang sama, sehingga sering menimbulkan salah paham, orang
tua sering hanya memberikan informasi tanpa ikut serta memecahkan masalah yang
dihadapi remaja.
- Karena kesibukan masing-masing ,
seringkali komunikasi antara orang tua dengan remajanya hanya terjadi dalam
waktu yang singkat dan lebih banyak bersifat formal.
- Dalam keluarga seringkali
remaja kurang diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengembangkan
kreativitasnya serta mengemukakan ide secara bebas.
- Perbedaan kepentingan sering
kali juga dapat menimbulakan adanya ketegangan dan konflik, karena munculnya
perbedaan criteria dalam memandang sesuatu permasalahan.
Hambatan –
hambatan komuniksi dapat ditanggulangi dengan inisiatif yang
seyogyanya datang dari orang tua untuk mendidik anak-anak dengan “ apa yang
mereka inginkan. sebaliknya membiarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan
keinginan mereka juga bukan merupakan hal yang bijak bimbingan melalui dialog
diskusi, analisis dan pertimbangan dalam setiap permasalahan perlu selalu
dilakukan. Anak lebih mudah menerima bimbingan dengan contoh konkrit dan bukan
sekedar informasi.
c. Hubungan
Remaja dengan Sekolah dan Guru.
Problem yang
muncul pada kehidupan remaja dalam lingkungan sekolah sering kali
termanifestasi dalam bentuk kesulitan dalam menghadapi pelajaran sekolah, baik
dalan lisan, tulisan maupun penyelesaian tugas. Keluhan semacam ini timbul
semata-mata karena reaksi spontan terhadap suatu keadaan, tetapi biasanya
merupakan akibat dari satu rangkaian peristiwa yang sedang berlangsung lama dan
berlarut-larut.
Remaja yang
mengalamai problem di sekolah pada umumnya mengemukakan keluhan bahwa mereka
tidak ada minat terhadap pelajaran dan bersikap acuh tak acuh, prestasi belajar
menurun kemudian timbul sikap-sikap dan perilaku yang tidak diinginkan seperti
membolos, melanggar tata tertib, menentang guru, berkelahi, dsb. Hal ini dapat
dilihat dari berbagai dimensi penyebab yaitu faktor-faktor negatif di antaranya
adalah:
- Kurang adanya kematangan fisik,
mental dan emosi sesuai dengan teman sebaya dan harapan sosial.
- Adanya hambatan fisik atau
kelainan organism, baik pendengaran penglihatan, cacat tubuh dan sebagainya.
- Kemampuan yang kurang atau
justru terlalu tinggi.
- Adanya hambatan atau gangguan
emosi akibat tekanan dari orang dewasa khususnya guru sebagai pendidikan di
sekolah.
Untuk itu
guru dalam proses belajar mengajar hendaknya dapat memilih dan
menggunakan teknik mengajar yang dapat meningkatkatkan peran serta
(partisipasi) remaja di dalam kelas. Kemudian guru juga diharapkan dapat
berupaya untuk meningkatkan kemandirian berpikir dan berpendapat, dengan
diskusi atau pembelajaran komunikasi dua arah, disamping itu perlu pemahaman
guru terhadap problem-problem umum remaja. khususnya berkaitan dengan
perkembangan remaja.
d. Hubungan
Remaja dalam Kehidupan Kelompok.
Selalu
ditekankan bahwa kehidupan remaja dalam kelompok merupakan hal yang sangat
penting dalam keseluruhan kehidupan remaja, sehingga “ rasa diterima” dan
dihargai oleh kelompok serta status atau kedudukan di antara teman sebaya
sangan penting, dan sering kali diupayakan dengan berbagai cara dan upaya.
Kelompok disekolah ataupun di luar sekolah dapat merupakan sumber yang dapat
menenangkan dan mengarahkan kecenderungan-kecenderungan destruk menjadi
konstruk.
Kecenderungan
untuk menjadi kelompok sebaya sangat kuat sehingga dalam kehidupan kelompoknya
ikatan dan solidaritas antar anggota menjadi kuat dalam menghadapai tantangan
di lingkungan.
Terbentuknya
sistem nilai, sikap, perilaku dan kebiasaan baru banyak diwarnai oleh kelompok
sebaya ini, sehingga pemilihan kelompok sebaya yang tepat akan menjadi menjadi
pendorong dan sumber kematangan kepribadian remaja, sebaliknya akan menyesatkan
apabila kelompok yang dipilih adalah kelompok yang “miskin norma”.
2.
Kehidupan Psikologis Remaja
Perkembangan
fisik yang pesat dan tidak diimbangi perkembangan phsikis sebagai akibat masa transisi
yang terjadi pada remaja, sering menimbulkan konflik-konflik intern dalam upaya
penghayatan remaja terhadap dirinya sendiri. Permasalahan yang menyangkut aspek
psogologis tidak dapat dilepaskan dari permasalahan- permasalahan lain yang
bersumber dari lingkungan sosial budayanya. Hubungan yang kurang harmonis
dengan orang tua, guru, teman sebaya dan pacar dan sebagainya dapat menghambat
perkembangan kepribadian dan mengancam kesehatan mental.
Konflik-konflik
internal dan eksternal yang tetjadi seringkali menjadi sebab remaja melarikan
diri dari “kenyataan” kemudian masuk dalam alam ilusi dan mimpi. Hal ini
mungkin terjadi bila remaja merasa lingkungan social budaya mengecewakan dan
dianggap mengancam eksistensi dirinya. Dilihat dari kehidupan psikologisnya,
remaja yang memiliki kesehatan yang baik adalah remaja yang memiliki kondisi
yang memungkinkan remaja dapat mengembangkan pribadi secara penuh, baik
perkembangan dalam dimensi phisik, intelek dan emosinya dengan cara yang
harmonis dan sesuai dengn kepentingan individu lain dalam lingkungannya.
Permasalahan dalam kehidupan psikologis remaja dapat diidentifikasi dari stabil
tidaknya perkembangan emosi yang dialami, berhasil tidaknya penyesuaian diri
yang dilakukan, idealism dan cita-cita serta kematangan seksual yang
dialaminya.
a.Stabilitas
Emosi
Kehidupan
remaja bukan saja mengalami perubahan phisik dan fisiologi, tetapi remaja yang
selalu dihadapkan pada kehidupan emosi yang tidak stabil, Seringkali terlihat
keceriaan yang berlebihan tetapi tiba-tiba berubah menjadi murung, pendiam atau
pemarah. Situasi emosi lain yang sering muncul adalah kepekaan emosi yang
terlalu tinggi. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan emosi yang tidak stabil
pada remaja diantaranya adalah harapan, keluarga, dan masyarakat (lingkungan)
yamng terlalu tingggi terhadap pergaulannya dengan teman sebaya. Keinginan
untuk selalu tampil “terbaik” dan dapat diterima oleh kelompok sebaya dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan-kecemasan bila dalam kenyataan remaja merasa
gagal atau kurang popular diantara teman-temannya.
b. Kematangan
Seksual
Pertumbuhan
fisik pada remaja yang sangat pesat merupakan konsekuensi mulai berfungsinya
hormon-hormon reproduksi yang membedakan secara jelas pertumbuhan fisik
laki-laki dan perempuan . Pada masa ini remaja mulai merasakan adanya
rangsangan-rangsangan erotik yang menandai mulai berfungsinya hormon-hormon
sekunder yang mendukung kesiapan reproduksi.
Bersamaan
dengan pertumbuhan badan dan penambahan usia maka kelenjar-kelenjar seks remaja
mulai berkembang dan berfungsi, sehingga secara alamiah remaja
laki-laki maupun perempuan akan mulai berminat dan tertarik pada lawan jenis
meskipun seringkali gejolak rasa itu ditekan, karena kesadaran untuk sekolah
dulu ataupun tekanan dari orang tua dan lingkungan. Pada masa ini kelompok
remaja membutuhkan bantuan lingkungan terutama orang tua untuk dapat menjawab
dan memuaskan rasa ingin tahu dan pertanyaan-pertanyaan yang sering menganggu
tentang perangsangan dan kehidupan seksual pada umumnya.
3.Idealisme
dari Cita-Cita
Perkembangan
intelektual yang bersifat netral dalam mencari identitas diri bila dapat
membimbing dan arah yang sesuai dapat memacu munculnya kreativitas dan ide-ide
cemerlang pada remaja: Idealisme dan cita-cita dapat berkembang secara pesat
bila remaja dalam kondisi mental yang cukup sehat, sehingga idealism dan
cita-cita yang muncul merupakan motivasi yang kuat untuk dapat berprestasi
setinggi mungkin (need achievement) sebaliknya berbagai kegagalan remaja dalam
memenuhi tuntutan lingkungan dan tugas-tugas perkembangannya dapat berakibat
munculnya perilaku-perilaku menyimpang sebagai manifestasi dari frustasi, baik
sebagai akibat kegagalan dalam kehidupan kelompok dan menunjukkan eksistensi
dirinya.
Dalam
kehidupan remaja seringkali muncul konflik (berbagai tuntutan dan kepentingan
yang muncul secara bersama, dan semuanya menuntut pemenuhan secara simultan).
Konflik-konflik yang muncul dalam kehidupan remaja sering berupa : konflik
antara doronga erotis dan kesadaran etika moral, konflik antara kepentingan pribadi
dan kehidupan kelompok, konflik antara idealisme dan realita kehidupan, konflik
antara kebebasan dan tekanan orang dewasa, konflik antara kemampuan nyata dan
tuntunan lingkungan dan sebagainya.
BAB IV
PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA
Kegagalan remaja dalam melakukan
tugas perkembangannya termasuk dalam menjalin hubungan dengan lingkungan
sosialnya sering menimbulkan konflik-konflik internal maupun konflik yang
terjadi antar individu dan kelompok yang mengarah pada munculnya perilaku
menyimpang atau kenakalan remaja. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada dasarnya
perilaku menyimpang atau kenakalan yang sering muncul pada kelompok remaja
sebenarnya merupakan kompensasi dari segala kekurangan dan kegagalan yang
dialaminya.
1.
Pengertian
Perilaku Menyimpang atau Kenakalan Remaja
Kenakalan menunjuk pada perilaku
yang berupa penyimpangan atau pelanggaran pada norma yang berlaku. Ditinjau
dari segi hukum, kenakalan merupakan pelanggaran terhadap hukum yang belum bisa
dikenai hukum pidana sehubungan dengan usianya. Perilaku menyimpang pada remaja
pada umumnya merupakan “kegagalan sistem kontrol diri” terhadap implus-implus
yang kuat dan dorongan-dorongan instingtif. Implus-implus, dorongan primitif
dan sentiment tersebut disalurkan lewat perilaku kejahatan, kekerasan agresi
dan sebagainya yang dianggap mengandung “nilai lebih” oleh kelompok tersebut.
Membahas perilaku menyimpang tidak
dapat melepaskan diri dari perilaku yang dianggap normal dan sempurna serta
ideal yang merupakan rata-rata secara statistik yang dapat diterima oleh
masyarakat umum sesuai dengan pola kelompok masyarakat setempat dan cocok
dengan norma sosial yang berlaku pada saat dan di tempat tertentu, sehingga
permasalahan perilaku menyimpang berbatas waktu dan tempat.
Sedangkan predikat pribadi yang
nortmal menampilkan diri: sempurna, ideal, berada dalam skor rata-rata secara
statistik, tanpa adanya sindrom-sindrom medis adekuat ( serasi, tepat),
sehingga secara umum bisa diterima oleh kelompok sosial masyarakatnya sesuai
dengan pola kelompok masyarakat setempat, cocok dengan norma sosial yang
berlaku pada saat dan di tempat ini dan ada relasi persoalan dengan orang lain
yang memuaskan.
Pribadi normal mempunyai ciri :
Relatif dekat dengan integrasi jasmani rohani yang ideal. Kehidupan psikisnya
relatif stabil, tidak banyak memendam konflik batin dan tidak berkonflik dengan
lingkungan. Batinnya tenang seimbang, badanya selalu mersa kuat serta sehat.
Predikat abnormal diterjemahkan
dalam pengertian sosiologi yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Sosiopatik, adalah
perilaku menyimpang secara sosial, mal
adjusted, (tak mau menyesuaikan diri, salah suai), tingkah lakunya tidak
adekuat tidak dapat diterima oleh umum, tidak sesuai dengan norma-norma sosial
yang berlaku. Pribadi abnormal atau sosiopatik mempunyai ciri : mengalami
disintergrasi baik dalam diri sendiri maupun dengan lingkungannya terisolasi
dari hidup bermasyarakat yang normal, selalu didera konflik batin dan selalu
berbenturan dengan norma sosial serta formal.
Perbedaan antara remaja yang
berperilaku normal dalam kelompok remaja serta yang berperilaku menyimpang
dapat ditengarai dari tiga dimensi perbedaan yaitu : perbedaan dalam struktur
intelektualnya, konstitusi fisik dan psikis serta ciri karakteristik
individual.
2.
Perbedaan
Struktur Intelektual
Pada umumnya
kelompok remaja yang berperilaku menyimpang mempunyai intelegensi yang berbeda
dengan intelegensi rata-rata anak-anak yang normal, yaitu nampak adanya
perbedaan fungsi-fungsi kognitif pada mereka. Pada umumnya kelompok menyimpang ini
mempunyai nilai yang rendah pada tugas-tugas prestasi tetapi mempunyai nilai
lebih pada ketrampilan verbal. Kelompok ini pada umumnya kurang toleran
terhadap hal-hal yang yang abigious dan kurang mampu memperhatikan dan
menghargai perbedaan perilaku serta pribadi orang lain.
3. Perbedaan Fisik
dan Psikis
Anak-anak yang
berperilaku menyimpang (delinkuensi) nampak “idiot secara moral” pada umumnya memiliki ciri
karakteristik khas yang dalam fungsi psikologisnya dan neurologisnya. Hal-hal
yang Nampak berbeda diantaranya : lebih lamban dalam rereaksi terhadap stimulus
kesakitan, dan menunjukkan ketidakmatangan jasmaniah atau anomaly perkembangan
tertentu.
4. Perbedaan Ciri
Karakteristik Individual
Remaja yang berperilaku menyimpang
memiliki ciri kepribadian khusus yaitu : lebih berorientasi pada “kehidupan
masa sekarang” yaitu bersenang-senang dan puas pada hari ini dan kurang
memperhitungkan hari esok. Kelompok ini juga sangat impulsif dalam berperilaku,
seperti perilaku yang nyrempet bahaya, agresif, emosional dan sebagainya karena
kurang berfungsinya hati nurani. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya
disiplin dan kontrol diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar